Jumat, 16 Oktober 2009

METODE PENDIDIKAN MENURUT QUR’AN


METODE PENDIDIKAN MENURUT QUR’AN
Makalah Ini Diajukan Dalam Memenuhi Tugas Mata Kuliah
TAFSIR
Dosen : Drs. Kadenun Hasan, M.Ag

Oleh :
ARIF RAHMAN HAKIM
JURUSAN PENDIDIKAN ISLAM
JENJANG STRATA 1
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM SHALAHUDDIN AL AYYUBI
JAKARTA
TAHUN AKADEMIK 2009/2010



METODE PENDIDIKAN MENURUT QUR’AN
A. AL MAIDAH AYAT 67
*
“Hai Rasul, sampaikan apa yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu hendak menyampatkan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dan gangguan) manusia Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir” (QS. 5: 67)

Ar-Razi berpendapat, bahwa ayat ini merupakan janji Allah kepada nabi-Nya Muhammad SAW bahwa beliau akan dipelihara Allah dari gangguan dan tipu daya orang-orang Yahudi dan Nasrani, karena ayat-ayat yang mendahuluinya demikian juga sesudahnya berbicara tentang mereka.Thahir ibn Asyur menambahkan bahwa ayat ini mengingatkan rasul agar menyampaikan ajaran agama kepada ahl kitab tanpa menghiraukan kritik dan ancaman mereka, apalagi teguran-teguran pada ayat-ayat yang lalu merupakan teguran yang keras. Teguran keras ini pada hakikatnya tidak sejalan dengan sifat nabi yang cenderung memilih sikap lembut, bermujadalah dengan yang terbaik.
Alloh Azza wa Jalla telah mengutus Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam dengan misi dakwah dan tugas beliau sebagai penyampai Kalamulloh kepada manusia. Alloh Azza wa Jalla berfirman, yang artinya: " maka sesungguhnya kewajiban yang dibebankan atasmu (Muhammad) hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang." [QS An Nahl 82] Alloh Azza wa Jalla juga berfirman, yang artinya," Hai Rosul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu." [QS Al maidah 67].
Al Qur'an adalah wahyu yang disampaikan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam kepada umatnya, sebagaimana beliau diperintahkan oleh Allah dalam ayat: "Wahai Rasul, sampaikanlah apa yang telah diturunkan kepadamu dari Rabbmu." (Al Maidah: 67). Dan Al Qur'an adalah kalamullah sebagaimana hadits dari Jabir yang menceritakan Nabi menawarkan dirinya kepada orang yang pulang haji: "Adakah seorang yang akan membawaku kepada kaumnya, sebab orang Quraisy telah melarangku untuk menyampaikan kalam Rabbku." (HR. Bukhari dalam Khalqul Af'alil Ibad 86, 205). Itulah Al Qur'an, dia bukan makhluk. Barangsiapa yang mengira dia makhluk, maka dia dianggap kafir menurut para ahlul hadits.
Di dalam sebuah hadis riwayat Tirmizi disebutkan bahwa ulama adalah pewaris para Nabi (inna al- ‘ulama ‘a waratsatul anbiyay). Seperti diketahui dari banyak ayat-ayat Al-Qufan bahwa para Nabi itu adalah pengemban risalah, pembawa pesan dan amanat Allah kepada umat manusia. Karena itu, tugas para nabi antara lain: Pertama, tabligh, yaitu menyampaikan ajaran Allah (S.A1-Maidah:67). Kedua, tabsyir dan tanzir, yaitu memberikan khabar gembira dan peringatan (S.An-Nisa’:165). Ketiga, tabyin, yaitu memberikan penjelasan kepada umat tentang hukum (S.al-Thalaq:l 1). Keempat, tahkim, yaitu memberikan/menetapkan keputusan hukum berdasarkan Al-Kitab (S.A1-Baqarah:213), dan kelima, uswah, yaitu memberikan ketauladanan (S.A1-Ahzab:21). Memperhatikan tugas dan tanggung jawab yang diemban para Rasul tersebut, ulama harus tampil sebagai penyampai ajaran yang pernah diperankan oleh Rasulullah. la harus mampu memberikan penjelasan dan menetapkan kepastian tentang hukum-hukum agama yang dibutuhkan oleh umat. Di samping itu, ia juga mampu memberikan khabar gembira {tabsyir) dan pertakut/peringatan {tanzir) dalam rangka mendorong umat untuk melaksanakan perintah dan menjauhi larangan Allah. Dan yang tidak kalah pentingnya tentu ia juga harus mampu menampilkan dirinya sebagai uswah hasanah (tauladan yang baik) sehingga ia benar-benar disegani dan diikuti oleh umat. Sikap, perilaku, ucapan dan tindak tanduknya yang penuh tawadhu’ dapat memberikan kesejukan sekaligus pencerahan kepada umat.
Telah diketahui dan diyakini oleh segenap ummat Islam, bahwa Nabi uhammad SAW itu diutus sebagai "muballigh" dari Allah SWT. Firman llah yang menunjukkan demikian, antara lain :"Hai Rasul, sampaikanlah apa-apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu". [QS. Al-Maidah : 67]. Dan juga sebagai "mubayyin" (yang menerangkan) tentang yang dikehendaki oleh Allah, sebagaimana dinyatakan dengan firman-Nya :Dan Kami (Allah) telah menurunkan Al-Qur’an kepadamu (Muham-mad), supaya kamu menerangkan kepada segenap manusia apa yang diturunkankepada mereka. Dan supaya mereka memikirkan. [QS. An-Nahl : 44]. Sehubungan dengan itu maka Nabi Muhammad SAW menerangkan Al- Qur’an itu ada kalanya dengan perbuatan, adakalanya dengan perkataan, adakalanya dengan iqrar, dan adakalanya dengan perbuatan dan perkataan.
Dengan ini jelaslah bahwa "sunnah" itu yang menerangkan isi Al- Qur’an, menjelaskan kesimpulannya, membatasi muthlaqnya dan menguraikan kemusykilan (kesulitan)nya. Maka dari itu tidak ada sesuatu yang terdapat di dalam sunnah, melainkan Al- Qur’an telah menunjukkan-nya dengan petunjuk yang singkat ataupun yang panjang; secara ijmali maupun tafshili. Dan di antaranya ada yang umum sekali maksudnya, yaitu ayat yang memerintahkan kita (ummat Islam) mengikut Rasulullah SAW seperti ayat : "Dan apa-apa yang telah didatangkan Rasul kepadamu, maka ambillah dia; dan apa yang kamu telah dicegah mengerjakannya, maka tinggalkanlah". [QS. Al-Hasyr : 7].
B. AN NAHL 125


“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” Q.S AN NAHL 125

1. METODE DAKWAH SESUAI Q.S. AN NAHL 125
a. Bentuk-bentuk Metode Dakwah
Merujuk kepada Q.S. an-Nahl :125, kita dapat mengambil pemahaman bahwa metode dakwah itu meliputi tiga cakupan, yaitu :
1. Al-Hikmah
Hikmah dalam dunia dakwah mempunyai posisi yang sangat penting, yaitu dapat menentukan sukses tidaknya dakwah. Sebagai metode dakwah, al-Hikmah diartikan bijaksana, akal budi yang mulia, dada yang lapang, hati yang bersih, dan menarik perhatian orang kepada agama atau Allah. Dapat dipahami bahwa al-Hikmah adalah merupakan kemampuan dan ketepatan seorang pendidik dalam memilih, memilah dan menyelaraskan teknik dakwah dengan kondisi objektif peserta didik. Al-Hikmah merupakan kemampuan pendidik dalam menjelaskan ajaran-ajaran Islam serta realitas yang ada dengan argumentasi logis dan bahasa yang komunikatif.
Al-Hikmah dalam mengenal strata / golongan peserta didik.
Dalam menghadapi peserta didik yang beragam tingkat pendidikan, strata sosial, dan latar belakang budaya, para pendidik memerlukan hikmah, sehingga ajaran Islam mampu memasuki ruang hati para peserta didik dengan tepat. Oleh karena itu, para pendidik dituntut untuk mampu mengerti dan memahami sekaligus memanfaatkan latar belakangnya, sehingga ide-ide yang diterima dirasakan sebagai sesuatu yang menyentuh dan menyejukkan kalbunya.
Syeikh Muhammad Abduh menyimpulkan dari ayat Al-Qur’an di atas, bahwa dalam garis besarnya, umat yang dihadapi seorang pendidik dapat dibagi atas tiga golongan, yang masing-masingnya harus dihadapi dengan cara-cara yang berbeda pula, antara lain :
1. Golongan cerdik-cendekiawan yang cinta kebenaran dan dapat berfikir secara kritis, cepat dapat menangkap arti persoalan. Mereka ini harus dipanggil dengan “hikmah”, yakni dengan alasan-alasan, dengan dalil dan hujjah yang dapat diterima oleh kekuatan akal mereka.
2. Golongan awam, kebanyakan orang yang belum dapat berfikir secara kritis dan mendalam, belum dapat menangkap pengertian yang luas. Mereka ini dipanggil dengan “mauidzatun-hasanah”, dengan anjuran dan didikan yang baik dan mudah dipahami.
3. Golongan yang tingkat kecerdasannya di antara kedua golongan tersebut, belum dapat dicapai dengan “hikmah”, akan tetapi tidak akan sesuai pula bila dilayani seperti golongan awam. Mereka ini dipanggil dengan “mujadalah billati hiya ahsan”, yakni dengan bertukar fikiran, guna mendorong supaya berfikir secara sehat antara satu dengan yang lain dengan cara yang lebih baik.
Al-Hikmah dalam arti kemampuan memilih saat bila harus berbicara, bila harus diam.
Pada satu saat boleh jadi diamnya pendidik menjadi efektif dan berbicara membawa bencana, tetapi di saat lain terjadi sebaliknya, diam malah mendatangkan bahaya besar dan berbicara mendatangkan hasil yang gemilang. Kemampuan pendidik menempatkan dirinya, kapan harus berbicara dan kapan harus memilih untuk diam juga termasuk bagian dari hikmah dalam mengajar.
Kesemuanya penting sekali dalam usaha pendidikan. Seorang pendidik dapat menghindari pemakaian tenaga yang terbuang-buang, sedangkan hasilnya tidak seberapa malah sering kali negatif.
Al-Hikmah dalam mengadakan kontak pemikiran dan mencari titik temu dalam dakwah.
Sudah menjadi tabiat manusia pada umumnya sukar untuk menerima suatu pemikiran baru yang dirasakan sebagai pemikiran yang asing sama sekali. Orang lebih mudah menerima atau sekurang-kurangnya memberikan minat dan perhatiannya kepada sesuatu yang ada sangkut pautnya dengan apa yang ada dalam pikiran dan perasaannya; yakni apa yang dikenal dalam ilmu jiwa dengan istilah “apersepsi”; ataupun sesuatu yang dirasakan langsung mengenai kepentingan mereka sendiri.
Seorang pendidik melakukan kontak dengan alam pikiran peserta didik yang dihadapinya. Untuk ini ia harus mengetahui bahan apersepsi apa yang ada, dan harus dapat pula ia menjangkaunya. Dengan demikian ia dapat membangkitkan minat, yang diperlukan guna selanjutnya menggerakkan daya fikir yang bersangkutan. Akan sulit bagi seorang pendidik memulai tugasnya apabila ia tidak mendapat kontak sama sekali.
Pendidik juga akan berhadapan dengan beragam pendapat dan warna di masyarakat. Perbedaan adalah sebuah keniscayaan. Tidak hanya banyak perbedaan itu, sebenarnya ada titik temu di antara mereka. Kepiawaian pendidik mencari titik temu dalam heterogenitas perbedaan adalah bagian dari hikmah.
Al-Hikmah dalam toleransi dengan tidak melepaskan shibghah!
Ada kalanya para pendukung dakwah Islam yang menemui satu atau lebih macam kepercayaan dalam suatu masyarakat, bersama-sama dengan para penganut kepercayaan itu saling mengelakkan konfrontasi, malah juga dalam soal pokok yang penting, seperti arkanul-iman, dan arkanul Islam ─ satu dan lainnya atas nama “toleransi”.
Pendidik juga akan berhadapan dengan realitas perbedaan agama dalam masyarakat yang heterogen. Kemampuan pendidik untuk bersifat objektif terhadap umat lain, berbuat baik dan bekerja sama dalam hal-hal yang dibenarkan agama tanpa mengorbankan keyakinan yang ada pada dirinya adalah bagian dari hikmah dalam dakwah.
Al-Hikmah dalam memilih dan menyusun kata yang tepat.
Pendidik yang sukses biasanya juga berangkat dari kepiawaiannya dalam memilih kata, mengolah kalimat dan menyajikannya dalam kemasan yang menarik.
1. Qaulan Sadiedan
Sadied menurut lughat artinya adalah tepat, mengenai sasaran. Al-Qasyany menafsirkan istilah “qaulan sadiedan” dalam surat Al-Ahzab ayat 70 yakni kata yang lurus (qawiman); kata yang benar (haqqan); kata yang betul, tepat (shawaban).
Maka dapat disimpulkan dalam bidang pendidikan “qaulan sadiedan adalah kata yang lurus (tidak berbelit-belit), kata yang benar, keluar dari hati yang suci bersih, dan diucapkan dengan cara yang sedemikian rupa, sehingga tepat mengenai sasaran yang dituju, sehingga bidang pendidikan sampai mengetuk pintu akal dan kalbu para peserta didik yang dihadapinya”.
2. Qaulan Lay-Yinan
Qaulan Lay-yinan lazim diterjemahkan dalam bahasa kita dengan “kata yang lembut” atau “kata yang manis”. Qaulan Lay-yinan seperti yang dibawakan oleh Pembawa Risalah. Ia mengetuk otak dan hati sekaligus. Ia adalah suara yang dikendalikan oleh jiwa yang beriman. Cara dan gayanya tidak terlepas dari adab. Adab orang berkepribadian, yang bercelupkan “shibghatallah”.
Al-Hikmah dalam arti Uswatun Hasanah dan Lisanul Hal.
Mendidik dengan Uswatun Hasanah adalah cara berdakwah dengan melaksanakan ajaran Islam dalam kehidupan pribadi dan kehidupan sosial di berbagai bidang yang dapat menjadi contoh teladan yang baik untuk peserta didik. Berdakwah dengan Lisanul Hal adalah cara berdakwah melalui perbuatan dan perilaku nyata yang dilakukan secara langsung oleh pendidik.
Pendidik tidak boleh hanya sekadar menyampaikan ajaran agama tanpa mengamalkannya. Seharusnya pendidiklah orang pertama yang mengamalkan apa yang diucapkannya. Kemampuan pendidik untuk menjadi contoh nyata umatnya dalam bertindak adalah hikmah yang seharusnya tidak boleh ditinggalkan oleh seorang pendidik. Dengan amalan nyata yang langsung dilihat oleh peserta didiknya, para pendidik tidak terlalu sulit untuk harus berbicara banyak, tetapi gerak dia adalah dakwah yang jauh lebih efektif dari sekadar berbicara.3
2. Al-Mau’izha Al-Hasanah
Secara bahasa, mau’izhah hasanah terdiri dari dua kata, yaitu mau’izhah dan hasanah. Kata mau’izhah berasal dari kata wa’adza-ya’idzu-wa’adzan-idzatan yang berarti nasihat, bimbingan, pendidikan dan peringatan. Sementara hasanah artinya kebaikan.
Mau’izhah hasanah dapatlah diartikan sebagai ungkapan yang mengandung unsur bimbingan, pendidikan, pengajaran, kisah-kisah, berita gembira, peringatan, pesan-pesan positif yang bisa dijadikan pedoman dalam kehidupan agar mendapatkan keselamatan dunia dan akhirat.
3. Al-Mujadalah Bi-al-Lati Hiya Ahsan
Kata “jadala” dapat bermakna menarik tali dan mengikatnya guna menguatkan sesuatu. Orang yang berdebat bagaikan menarik dengan ucapan untuk meyakinkan lawannya dengan menguatkan pendapatnya melalui argumentasi yang disampaikan.
Dari segi terminologi (istilah) pengertian al-Mujadalah berarti upaya tukar pendapat yang dilakukan oleh dua pihak secara sinergis, tanpa adanya suasana yang mengharuskan lahirnya permusuhan di antara keduanya.
Dari pengertian di atas dapatlah diambil kesimpulan bahwa al-Mujadalah merupakan tukar pendapat yang dilakukan oleh dua pihak secara sinergis, yang tidak melahirkan permusuhan dengan tujuan agar lawan menerima pendapat yang diajukan dengan memberikan argumentasi dan bukti yang kuat.
Dalam dunia pendidikan, metode merupakan salah satu komponen yang sangat penting, yang mana komponen yang satu dengan yang lainnya saling mempengaruhi. Metode pendidikan yang terkandung dalam QS. An Nahl ayat 125 adalah hikmah, mauidzoh hasanah dan mujadalah.
Bimbingan yang dilakukan harus dengan mempergunakan segala macam cara yang sebaik-baiknya (mauidhah hasanah), sehingga dengan penyampaian hikmah yang baik, maka hikmah itu bisa tertanam pada diri individu yang dibimbing. Di sisi lain usaha untuk menanggulangi kenakalan remaja ini juga dengan melakukan dialog (mujadalah) yang baik, manusiawi dalam membuka pikiran dan hati pihak yang dibimbing, sehingga muncul pemahaman, penghayatan, keyakinan akan kebenaran dan kebaikan syariat Islam dan mau menjalankannya
Metode diskusi juga diperhatikan oleh al-Quran dalam mendidik dan mengajar manusia dengan tujuan lebih memantapkan pengertian dan pengetahuan mereka terhadap suatu masalah. Perintah Allah dalam menggali manusia ke jalan benar harus dengan hikmah dan mau’izah yang baik dan membantah mereka dengan berdiskusi dengan mereka secara benar seperti dalam surah al-Nahl ayat 125
Korelasi ayat dengan tema ;
Dalam dunia pendidikan, metode merupakan salah satu komponen yang sangat penting, yang mana komponen yang satu dengan yang lainnya saling mempengaruhi. Metode pendidikan yang terkandung dalam QS. An Nahl ayat 125 adalah hikmah, mauidzoh hasanah dan mujadalah. Bimbingan yang dilakukan harus dengan mempergunakan segala macam cara yang sebaik-baiknya (mauidhah hasanah), sehingga dengan penyampaian hikmah yang baik, maka hikmah itu bisa tertanam pada diri individu yang dibimbing. Di sisi lain usaha untuk menanggulangi kenakalan remaja ini juga dengan melakukan dialog (mujadalah) yang baik, manusiawi dalam membuka pikiran dan hati pihak yang dibimbing, sehingga muncul pemahaman, penghayatan, keyakinan akan kebenaran dan kebaikan syariat Islam dan mau menjalankannya
C. AL A’RAF 176 – 177

Dan kalau Kami menghendaki; sesungguhnya Kami tingikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan bawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami Maka ceritakanlan (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir Amat buruklah perummpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan kepada diri mereka sendirilah mereka berbuat zalim. (QS. 7:176-177)

Ayat ini menguraikan keadaan siapapun yang melepaskan diri dari pengetahuan yang telah dimilikinya. Allah SWT menyatakan bahwa sekiranya Kami menghendaki, pasti Kami menyucikan jiwanya dan meninggikan derajatnya dengannya yakni melalui pengamalannya terhadap ayat-ayat itu, tetapi dia mengekal yakni cenderung menetap terus menerus di dunia menikmati gemerlapnya serta merasa bahagia dan tenang menghadapinya dan menurutkan dengan antusias hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya adalah seperti anjing yang selalu menjulurkan lidahnya.
Menarik untuk merenungkan ayat Al-Quran tersebut. Ayat sebelumnya (175) surat al-A’raf menceritakan tentang orang-orang yang telah didatangkan ayat-ayat Allah kepada mereka, tetapi dia kemudian melepaskan diri dari ayat-ayat itu.
Dalam Tafsir Al-Azhar, Prof. Dr. Hamka menjelaskan, bahwa orang-orang ini sudah terhitung pakar atau ahli dalam mengenal ayat-ayat Allah. Tetapi, rupanya, semata-mata mengenal ayat Allah saja, kalau tidak pandai mengendalikan hawa nafsu, maka pengetahuannya tentang ayat-ayat Allah itu satu waktu bisa tidak memberi faedah apa-apa, bahkan dia terlepas dari ayat-ayat itu. Ayat-ayat itu tanggal atau copot dari dirinya.
Dalam ayat ini, kata digunakan lafazh ‘insalakha’, arti asalnya ialah ‘menyilih’ (ganti kulit. Bahasa Jawa: mlungsungi untuk ular). Atau, ketika orang menyembelih kambing, maka dia kuliti dan dia tanggalkan kulit kambing, sehingga tinggal badannya saja. Ini juga disebut ‘insalakha’.
Masih tulis Hamka dalam tafsirnya: “Nabi disuruh menceritakan keadaan orang yang telah mengerti ayat-ayat Allah, fasih menyebut, tahu hukum halal dan hukum haram, tahu fiqih dan tahu tafsir, tetapi agama itu tidak ada dalam dirinya lagi. Allahu Akbar! Sebab akhlaknya telah rusak.”
“Maka syaitanpun menjadikan dia pengikutnya, lalu jadilah dia daripada orang-orang yang tersesat.” Kata Buya Hamka, rupanya karena hawa nafsu, maka ayat-ayat yang telah diketahui itu tidak lagi membawa terang ke dalam jiwanya, melainkan membuat jadi gelap.
Akhirnya dia pun menjadi anak buah pengikut syaitan, sehingga ayat-ayat yang dia kenal dan dia hafal itu bisa disalahgunakan. Dia pun bertambah lama bertambah sesat. Seumpama ada seorang yang lama berdiam di Makkah dan telah disangka alim besar, tetapi karena disesatkan oleh syaitan, dia menjadi seorang pemabuk, dan tidak pernah bersembahyang lagi.
Maka, karena dia telah sesat, dipakainyalah ayat Al-Quran yang dia hafal itu untuk mempertahankan kesesatannya, dengan jalan yang salah. Dia masih hafal ayat-ayat dan hadits itu, tetapi ayat dan hadits sudah lama copot dari jiwanya, dan dia tinggal dalam keadaan telanjang. Na’udzubillah min dzalik,” demikian tulis Hamka dalam tafsir terkenalnya.
Terhadap manusia jenis ini, al-Quran menggunakan perumpamaan dan sebutan yang sangat buruk, yaitu mereka diumpakan sebagai anjing. Hamka memberi uraian terhadap tamsil orang yang menukar kebenaran dengan kekufuran ini: “Laksana anjing, selalu kehausan saja, selalu lidahnya terulur karena tidak puas-puas karena tamaknya.

Walaupun dia sudah dihalaukan pergi, lidahnya masih terulur, karena masih haus, karena masih merasa belum kenyang, dan walaupun dibiarkan saja, lidahnya diulurkannya juga.
Cobalah pelajari dengan seksama, mengapa maka binatang yang satu itu, anjing, selalu mengulurkan lidah? Sebabnya ialah karena tidak pernah merasa puas. Lebih-lebih pada siang hari, di kala panas mendenting-denting. Anjing mengulurkan lidah terus, karena selalu merasa belum kenyang, karena hawanafsunya belum juga terpenuhi.”

Tamsil Al-Quran tentang anjing untuk orang-orang yang membuang kebenaran dan mengikuti kebatilan ini sangat penting untuk kita renungkan, mengingat kita melihat satu fenomena aneh di Indonesia, banyaknya orang-orang yang dulunya belajar agama di institusi-institusi pendidikan Islam, mengerti ayat-ayat Allah, tetapi akhirnya justru menjadi garda terdepan dalam melawan dan melecehkan ayat-ayat Allah sendiri.

Ini tidak bisa disalahkan pada lembaga pendidikannya begitu saja, tetapi perlu ditanyakan, mengapa ada manusia yang menjual kebenaran, membuang kebenaran yang telah diketahuinya, dan kemudian memilih menjadi ‘anjing’ sebagaimana disebutkan dalam Al-Quran.
Peringatan Allah SWT tersebut sangat penting untuk direnungkan oleh siapa saja. Oleh kita semua. Agar kita tidak masuk ke dalam kategori ‘anjing’ yang menjulur-julurkan lidahnya.Kita mengingatkan saudara-saudara kita, yang mungkin lupa akan peringatan Allah tersebut. Agar kita tidak mudah menjual ayat-ayat Allah, membuangnya, bahkan tak segan-segan menjadi garda terdepan dalam menghujat dan memutarbalikkan kebenaran.
Kita, misalnya, berkewajiban mengingatkan orang yang mengerti ayat-ayat Allah, malah menjadi penghujat ayat-ayat Allah itu sendiri, hanya karena terpesona dan terkagum-kagum oleh satu atau dua tulisan kaum orientalis yang melakukan studi Al-Quran.
Dari ayat ini dapat dilihat bahwa sejak awal Allah menghendaki manusia untuk menjadi hamba-Nya yang paling baik, tetapi karena sifat dasar alamiahnya, manusia mengabaikan itu. Ini memperlihatkan bahwa pada diri manusia itu terdapat potensi-potensi baik, namun karena potensi itu tidak didaya gunakan maka manusia terjerebab dalam lembah kenistaan, bahkan terkadang jatuh pada tingkatan di bawah hewan.
Mengapa menghapal Qur'an, karena Al Qur'an menyeru kita untuk merenungkan dan memikirkan banyak hal, dari mulai penciptaan langit dan bumi, memikirkan tentang penciptaan manusia hingga penciptaan segala sesuatu yang ada disekitar kita agar iman kita bertambah dan berpadu dengan ilmu. Al qur'an menyeru manusia untuk berpikir, merenung dan menggunakan akal, supaya mereka mengenal kekuasaan Allah yang sangat agung dan mengenal alam raya tempat ia hidup. Semua itu akan mengantarkannya pada pengenalan akan Allah (ma'rifatullah) dengan sebaik-baik pengenalan. Allah juga membedakan orang yang berpikir dan mendayagunakan akal dengan orang selain mereka (yang tidak mendayagunakan nikmat allah). Allah berfirman : "Katakanlah, samakah orang yang buta dengan orang yang melihat. Tidakkah kamu sekalian berfikir ?" (QS : Al An'am, 6 : 50). Selain itu ada pula ajakan agar kita berfikir tentang kisah-kisah nyata yang Allah ceritakan. Firmannya : "Maka ceritakanlah tentang kisah-kisah itu agar mereka berfikir". (QS. Al A'raf, 7 : 176). Metode menghapal Al Qur'an juga menumbuhkan kemampuan berfikir cerdas (Thinking Skill), kecerdasan emosional, dan kecerdasan intelektual.
D. IBRAHIM 24 – 25
öNs9r& ts? y#øx. z>uŽŸÑ ª!$# WxsWtB ZpyJÎ=x. Zpt6ÍhŠsÛ ;otyft±x. Bpt7ÍhsÛ $ygè=ô¹r& ×MÎ/$rO $ygããösùur Îû Ïä!$yJ¡¡9$# ÇËÍÈ þÎA÷sè? $ygn=à2é& ¨@ä. ¤ûüÏm ÈbøŒÎ*Î/ $ygÎn/u 3 ÛUÎŽôØour ª!$# tA$sWøBF{$# Ĩ$¨Y=Ï9 óOßg¯=yès9 šcr㍞2xtGtƒ ÇËÎÈ
Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik (tauhid) seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya menjulang ke langit. Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan itu, untuk manusia supaya mereka memperoleh peringatan. Dan perumpamaan kalimat yang buruk, seperti pohon yang buruk, yang terbongkar dari tanah tidak dapat tetap tegak. (QS. Ibrahim [14]: 24-26)
Di dalam Tafsir Ibn Katsir dijelaskan bahwa Ali Ibn Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibn Abbas mengenai arti Kalimah Thayyibah pada ayat di atas yakni kalimat syahadah yang diucapkan seorang muslim dari lubuk hatinya dan yang menjadi cabangnya yang menjulang ke angkasa adalah amal salehnya. Sa’id Ibn Jubayr mengatakan bahwa QS Ibrahim [24] : 24 merupakan perumpamaan dari kehidupan seorang muslim yang ucapan maupun amalnya baik serupa dengan pohon kurma yang berubah setiap saat, ,baik di siang hari maupun malam hari, di musim panas mapun di musim dingin.
Sedangkan mengenai QS Ibrahim [14] : 25, Tafsir Ibn Katsir menjelaskan bahwa perumpamaan kata yang buruk adalah ucapan orang kafir yang mengingkari keberadaan Allah SWT, dan sebagai akibatnya tak ada amal saleh yang dapat diangkat ke langit seperti pohon yang mustahil dapat memiliki cabang yang menjulang ke angkasa sekiranya akar tidak kuat menancap ke dalam bumi. Kata yang buruk itu serupa dengan pohon duri yang beracun yang setiap saat dapat melukai bahkan mematikan orang lain.
Dalam mengupas perumpamaan dalam Kitab Suci Al-Qur`an pada QS. Ibrahim [14]: 24-27. Ini adalah perintah Allah untuk menjadi agenda kajian ilmiah agar dapat menjawab bagaimana menbangun kepribadian muslim yang sejati, yaitu kalimat tauhid yang menyatu dalam diri kita laksana pohon yang kokoh, akarnya menancap perut bumi, cabangnya mencakar langit dan tidak ada henti-hentinya ia berbuah, tak kenal musim (produktif, kreatif, inovatif).
Mendidik dengan menggunakan metode pemberian perumpamaan atau metode imtsal tentang kekuasaan Tuhan dalam menciptakan hal-hal yang hak dan hal-hal yang batil, metode ini menunjukkan bahwa metode imtsal untuk mendidik dan mengajar termasuk efektif. seperti dalam surah Ibrahim ayat 24-26 yang artinya: 24. tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit,
25. pohon itu memberikan buahnya pada Setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat.
26. dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikitpun.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar